Garis Biru Ini! Wera baru saja keluar dari apotek, Ival menunggu di luar. “kamu sudah beli test packnya” tanya Ival yang menunggu di parkiran sambil merokok, “udah” jawab Wera sambil menunjukkan plastik hitam yang isinya benda untuk mengetes kehamilan tersebut. Mereka kemudian bergegas pergi mencari toilet umum yang dekat, “bagaimana hasilnya?” tanya Ival yang kelihatan sangat khawatir. Wera tak menjawab dan kemudian menangis, “bagaimana?” tanya Ival lagi yang benar-benar penasaran. Wera semakin kuat menangis, kemudian Ival menenangkan Wera “tidak apa-apa, pasti akan baik-baik saja, aku tahu ini berat” Ival mengajak Wera ke suatu kafe di dekat pusat kota, mereka berdua makan siang. Ival sebenarnya enggan membuka percakapan tapi dia harus melakukannya, tetapi tiba-tiba Wera membuka mulut dan berkata “bagaimana aku bilangnya ke orangtua?”, Ival hanya menolehkan matanya ke langit-langit kafe itu dan tidak berkata apa-apa untuk sesaat, kemudian ia menatap Wera, mengambil kedua tangan w...
Seratus Delapan Puluh Derajat Kebanyakan memakai topeng Hitam, aneh dan agak pintar itulah yang bisa aku deskripsikan dari sosok temanku yang selalu tertawa sendiri ketika sedang membaca sesuatu di facebook saat aku dan satu temanku yang lain sedang menikmati makan siang di sebuah kantin di kampus. Karna terbiasa, kami tidak heran jika ia tiba-tiba tertawa dengan kuat. Tetapi mata-mata mahasiswa lain akan tertuju pada kami dan kadang-kadang menghilangkan selera makan kami jika kami diperhatikan dengan tatapan heran. “kau kalau ketawa liat-liat tempat, Ker” tegur Alda dengan aksen bataknya yang kedengarannya mulai hilang sejak berkuliah di kota, “sukakkulah” jawab Ker dengan kening mengerut, tidak senang dengan Alda yang menegurnya, “si bujang ini!” maki Alda yang nampaknya sudah naik darah, “masalahnya amamu apa!?” sahut Ker yang keliha...