Garis Biru Ini!
Wera baru saja keluar dari apotek, Ival menunggu di luar. “kamu sudah beli test packnya” tanya Ival yang menunggu di parkiran sambil merokok, “udah” jawab Wera sambil menunjukkan plastik hitam yang isinya benda untuk mengetes kehamilan tersebut. Mereka kemudian bergegas pergi mencari toilet umum yang dekat, “bagaimana hasilnya?” tanya Ival yang kelihatan sangat khawatir. Wera tak menjawab dan kemudian menangis, “bagaimana?” tanya Ival lagi yang benar-benar penasaran. Wera semakin kuat menangis, kemudian Ival menenangkan Wera “tidak apa-apa, pasti akan baik-baik saja, aku tahu ini berat” Ival mengajak Wera ke suatu kafe di dekat pusat kota, mereka berdua makan siang. Ival sebenarnya enggan membuka percakapan tapi dia harus melakukannya, tetapi tiba-tiba Wera membuka mulut dan berkata “bagaimana aku bilangnya ke orangtua?”, Ival hanya menolehkan matanya ke langit-langit kafe itu dan tidak berkata apa-apa untuk sesaat, kemudian ia menatap Wera, mengambil kedua tangan wera dan menggenggamnya dengan kuat “aku yang bilang ke mereka”.
Keesokan harinya mereka berdua sedang berbicara dengan orangtua Wera, Ayah Wera adalah pria yang tegas begitupun dengan ibunya, “ada apa ini Ival?” tanya ayah Wera dengan suara yang sangat kebapak-bapaan, “anu, om… emmm” Ival tidak bisa mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan, tetapi kemudian dengan perlahan, Wera membuka tasnya, mengambil test pack dan memberikannya pada ayahnya, ayahnya melihat dan menonjolkan kedua matanya “apa?” tanyanya, kemudian ibu Wera juga ikut melihat, di test pack itu tertera satu garis biru. Setelah mereka berdua melihatnya, ayah dan ibu Wera hanya bisa menarik nafas dan melihat ke arah lantai dan kemudian berkata pada Wera, anak mereka dan Ival menantu mereka “kalian berdua telah menikah selama dua tahun, namun tetap hasilnya tidak ada, meskipun begitu kami masih tetap menyayangi kalian, kami akan tetap berdoa” kata ibu Wera dengan lembut. “garis biru ini!” kata ayah Wera dengan keras kemudian menaruh benda itu ke atas meja, “ke depannya, kalian langsung ke rumah sakit aja, gak usah pake benda ini” saran ayah Wera yang kelihatan sudah benar-benar kecewa dengan benda tes kehamilan itu.
Dua bulan kemudian suara tangisan senang terdengar dari sebuah ruang di rumah sakit, Wera akhirnya mendapat momongan, saran ayahnya benar, ia tidak mengecek dengan test pack namun langsung ke rumah sakit dan mereka sangat berbahagia, cucu yang ditunggu-tunggu oleh orangtua Wera akhirnya datang juga.
***
Comments
Post a Comment