Hitam, aneh dan agak pintar itulah yang bisa aku deskripsikan dari sosok temanku yang selalu tertawa sendiri ketika sedang membaca sesuatu di facebook saat aku dan satu temanku yang lain sedang menikmati makan siang di sebuah kantin di kampus. Karna terbiasa, kami tidak heran jika ia tiba-tiba tertawa dengan kuat. Tetapi mata-mata mahasiswa lain akan tertuju pada kami dan kadang-kadang menghilangkan selera makan kami jika kami diperhatikan dengan tatapan heran. “kau kalau ketawa liat-liat tempat, Ker” tegur Alda dengan aksen bataknya yang kedengarannya mulai hilang sejak berkuliah di kota, “sukakkulah” jawab Ker dengan kening mengerut, tidak senang dengan Alda yang menegurnya, “si bujang ini!” maki Alda yang nampaknya sudah naik darah, “masalahnya amamu apa!?” sahut Ker yang kelihatannya darahnya sudah mencapai titik didih juga.
Aku hanya diam dan tak memperdulikan, mungkin untuk beberapa menit ke depan setelah aku menikmati makan siangku, sedangkan mereka sedang asyik berperang tanpa memikirkan bahwa mereka sedang berada di tempat publik. “kau diam aja, Da” Ker tampaknya tidak mau memperpanjang perdebatan mereka lagi, “kau yang diam, kau yang bikin ribut dari tadi!” kata Alda dengan keras. Akhirnya aku pun telah menghabiskan makan siangku, saatnya mengakhiri perang dengan datangnya pihak pendamai, “Ker, kau tahu satelit Cina jatuh di koordinat tiga lapan sepuluh lapan derajat dan lapan sepuluh satu enam tiga dua satu derajat di antara kedua negara di timur tengah yang lagi berperang” kataku dengan cepat dan dengan cara aneh mencoba menghentikan perdebatan mereka yang nampaknya takkan ada akhir jika aku tak turun tangan, “entah apa” sahut Alda dengan matanya yang tajam ke arahku, “ia. Dan gara-gara satelit jatuh itu, perang itu berhenti, paling gak untuk sementara, nunggu Cina ngambil satelitnya dulu, trus bertempur lagi” lanjutku lagi. Ker hanya mendekatkan wajahnya ke mukaku dan berkata “bacot!”, “yaudahlah, diam kelen, ribut kali pun dari tadi” kataku dengan datar.
Setelah kami siap makan, kami semua memutuskan untuk kembali ke kelas dan menunggu kelas di mulai, Ker dan Alda tampaknya sudah akur, aku membuka tas, mengambil novel yang kubawa dari rumah dan membaca sembari menunggu kelas di mulai.
Pada malam hari, Ker menelponku, “kau ke rumahku besok ya, ngerjain tugas untuk minggu depan” kata Ker, “aku gak tahu rumahmu, Jengkol!” jawabku dengan nada sedikit memaki, “ku jemput kau di simpang jalan besar, kampret!” sahutnya, “yaudah” tutupku. Keesokan harinya aku ke rumahnya, ia menjemputku namun ternyata tak seperti dugaanku, ia menjemputku dengan jalan kaki, aku baru menyadari kalau dia gak bisa ngendarai sepeda motor, “weleh, sama aja jalan kaki” kataku kecewa, “gak bisa aku bawa kereta” sahutnya. Sesampainya di rumahnya, nampak hanya ada sebuah di kursi di teras dan kami langsung masuk ke dalam rumah, seorang perempuan tiba-tiba memanggil Ker ketika aku baru saja dipersilahkan duduk oleh Ker, aku mendengar perempuan itu menyuruhnya untuk membawa teh untukku, “iya ma” jawab Ker dengan nada halus yang tak pernah kudengar di kampus. Dia menawarkanku teh dan mengatakan bahwa ia ke dapur lagi untuk mengambil roti, “ma, di mana rotinya?” tanyanya dengan nada yang benar-benar halus, tidak ada suara balasan tetapi setelah beberapa detik, Ker dan perempuan itu datang menghampiriku dan perempuan itu menaruh piring berisi roti di meja depanku, “ini istriku, namanya Helen” kata Ker padaku memperkenalkan wanita itu, aku kemudian berdiri dan menyalaminya, perempuan berwajah tenang itu kemudian kembali ke dapur. Aku terkejut ketika mengetahui hal itu, Ker tak pernah bercerita tentang hal itu, “kau heran ya?, (sedikit tertawa) aku udah dua tahun menikah, aku gak pernah cerita ke kalian di kampus”. Aku hanya melihatnya dan terdiam, aku hanya dapat menyimpulkan bahwa kadang seseorang adalah seratus delapan puluh derajat berbeda ketika di tempat yang berbeda, seperti Ker, di kampus, ia benar-benar anak kampus tetapi di rumah ia benar-benar suami yang baik kepada istrinya. Namun, aku tidak menemukan hal itu di diriku. Aku sangat terbuka dimana sebenarnya orang kebanyakan memakai topeng yang berbeda ketika mereka berada di suatu lingkungan lain.
***

Comments
Post a Comment